Anda Bukan Seorang Penjilat, Tapi Seorang Profesional Sejati

Tanya?

Yth Bapak Djajendra,

Saya suka merasa sedih memikirkan teman-teman kantor yang sering menggosipkan saya sebagai tukang cari muka atau sebagai seorang penjilat. Padahal saya hanya belajar bersikap profesional untuk melayani perusahaan dan atasan secara memuaskan. Saya suka stres gara-gara digosipkan seperti ini, apa saran pak Djajendra untuk saya. Sekian dulu ya pak dan terimakasih banyak atas bantuannya.
from: Iman Sjahputra, Manager HRD & GE di sebuah pabrik di wilayah Karawang Barat.

Djajendra Menjawab !

Anda sesungguhnya bukanlah seorang penjilat, tapi Anda seorang profesional sejati yang berupaya memanfaatkan semua potensi untuk meraih sukses. Anda tidak perlu stres oleh gosip dan gunjingan orang lain.
Saya selalu berpendapat bahwa istilah penjilat dan cari muka, adalah istilah dari orang-orang yang putus asa, yang tidak mampu berkompetisi secara sehat dengan Anda. Lebih baik menjadi seorang penjilat yang kreatif, produktif, dan efektif daripada menjadi orang yang malas, suka bergunjing, dan tidak bekerja maksimal. Walaupun Anda jadi bahan gosip di antara teman kerja, Anda sebaiknya tidak berkecil hati dan kecewa. Yang penting Anda harus selalu berpikir dan bertindak dengan nilai-nilai profesionalisme yang tinggi dan jangan merugikan siapa pun. Anda harus menunjukkan kualitas diri Anda sebagai pribadi yang merangkul setiap teman kerja Anda. Selamat bekerja dan raih semua impian dengan nilai-nilai kebaikan. Jangan lupa untuk tetap bersemangat.

Jangan Lawan Atasan Anda

Curhat!

Secara umum kami puas dengan training GCG yang bapak berikan, sekarang kami jadi banyak tahu tentang GCG, tapi kami sangat heran saat bapak  melarang kami melawan atasan yang melakukan bad governance. Hal ini akan membuat atasan kami seperti mendapat angin segar untuk semakin menjadi-jadi melakukan bad governance di perusahaan kami. Terima kasih. – DN.

Djajendra Menjawab !

Saya sangat berterima kasih atas perhatian Anda. Alasan saya melarang Anda melawan atasan, adalah sebuah pesan kepada Anda semua untuk memanfaatkan kekuatan positif dan menghindarkan hal-hal yang merusak hubungan kerja dengan atasan masing-masing. Sebab, bagaimanapun juga para atasan memiliki power yang bisa membuat para bawahan tidak nyaman. Untuk itu, seharusnya Anda semua wajib membangun pikiran positif, untuk meningkatkan profesionalisme masing-masing secara lebih baik.

Secara pribadi saya telah berbicara dengan atasan Anda, dan beliau-beliau menyatakan bahwa semua manajer-manajernya itu adalah aset yang sangat berharga, sehingga perlu dirawat dan diberikan contoh-contoh kepemimpinan yang jujur dan adil dari para atasan. Dan, atasan Anda sangat setuju untuk menjalankan prinsip-prinsip good corporate governance dengan mengimplementasikan Board Manual, Code of Conduct, dan Pedoman Bisnis Etik secara konsisten.

Bila praktik GCG berjalan secara baik, maka profesionalisme dan kejujuran pasti dapat berdiri ditengah-tengah suasana kerja yang penuh integritas dalam keharmonisan yang sempurna.

Saya sangat berharap Anda mampu memainkan peran positif, untuk menciptakan hal-hal yang strategis dalam mendukung terimplementasinya good corporate governence di perusahaan Anda.

Anda yang cerdik dalam kekuatan emosi positif pasti akan survive dari segala risiko konflik . Biarkan saja orang-orang terlibat dalam permainan politik praktis kantor, yang penting Anda mampu memainkan peran Anda secara cerdas dalam integritas diri yang tinggi melalui pengabdian penuh dedikasi kepada perusahaan.

Saya sangat percaya dan sangat yakin bahwa cara-cara positif yang dilandasi sikap sabar akan menuai hasil terbaik. Bekerjalah dalam suasana damai tanpa terprovokasi oleh hal apapun.
Walaupun atasan kita merupakan orang-orang yang tidak jujur bukanlah berarti kita boleh untuk tidak menghormati mereka. Apalagi anggaran dasar perusahaan menjamin power dari para komisaris dan direksi. Seharusnya secara persuasive, Anda cerdas merangkul dan mempengaruhi para atasan yang tidak jujur itu, untuk menciptakan sistem dan kultur kerja yang adil, jujur, terbuka, dan penuh dengan rasa tanggung jawab.

Sekian dan terima kasih

Bekerja Pada Perusahaan Keluarga

Segala Keinginan Dan Harapan Yang DiKerjakan Dengan Segenap Perhatian, Fokus, Disiplin, Energi, Dan Konsentrasi. Pasti Akan Terwujud Dalam Kehidupan. By. Djajendra.

Pertanyaan ?

Jika kita bekerja pada perusahaan keluarga, bagaimana cara menjaga hubungan antar kolega agar tidak terjadi kesenjangan atau kesalahpahaman? – Cosmopolitan

Djajendra Menjawab !

Perusahaan yang sehat selalu dibangun dengan sistem dan kultur yang profesional dengan cara menjunjung tinggi praktik kerja yang beretika bisnis terbaik; seperti transparan, adil, jujur, dan penuh tanggung jawab, dalam balutan integritas yang tinggi, serta sikap bijak yang menghargai kehebatan dan kerja keras dari orang lain. Di antara sikap bijak kita yang paling penting adalah merawat hubungan kerja yang berintegritas antara kita dengan kolega kita, dengan demikian akan terjadi sebuah proses positif yang menguatkan empati kita pada para kolega. Hubungan dengan integritas yang harmonis akan menghasilkan rasa saling percaya di antara kita dengan kolega kita. Jadi, tidaklah akan terjadi kesenjangan dan kesalahpahaman di antara kita dengan kolega kita, apalagi bila kita selalu berniat tulus untuk bekerja dengan cara-cara yang mengedepankan etika dan moral dalam membangun hubungan yang super hebat di dalam perusahaan kita.

Trick of The Month

4 buah tips singkat. Jika kita bekerja dengan mantan pacar si dia?

• Jangan menciptakan gambaran mantan pacar si dia sebagai monster di dalam imajinasi.

• Bersihkan pikiran dari prasangka buruk.

• Bersikaplah dengan bijak dan bekerjalah secara profesional.

• Berhentilah untuk memikirkan hal-hal yang merugikan karier kerja.

Sekian dan terima kasih.

Ketika Nepotisme Menjadi Budaya Kerja

“Profesionalisme Artinya Mewujudkan Budaya Kerja Yang Bersih Dari Nepotisme Dan Mengedepankan Budaya Kerja Good Governance.” – Djajendra

Yth Bapak Djajendra,

Bagaimana cara kita menghadapi budaya kerja di perusahaan yang mengagung-agungkan kehebatan sesama alumnus? Apakah etis bila manajemen mengutamakan merekrut karyawan baru dari universitas tertentu dengan fanatisme tinggi? Bagaimana hal ini hubungannya dengan good governance? Terima kasih. Dandi Wayudi, Jakarta.

Djajendra Menjawab!

Dear Dandi Wayudi,

Manajemen yang berkualitas tidak akan merekrut atau pun mempromosikan karyawan atas dasar nepotisme. Manajemen yang kuat pasti bekerja sepenuhnya dengan menggunakan sistem yang konsisten dengan prinsip-prinsip good corporate governance. Manajemen yang profesional pasti mengutamakan kompetensi, kualitas, karakter, dan potensi seseorang untuk dijadikan sebagai sumber daya perusahaan yang kuat dan solid. Dan, tidak mungkin mengkerdilkan dirinya dengan hanya mempercayai sesama kelompok atau alumnus.
Ketika Anda menghadapi budaya kerja yang mengagung-agungkan kehebatan sesama alumnus, maka Anda harus bersikap lebih tegar dan lebih sabar. Lalu, jagalah diri Anda dengan tetap berpikir positif dan berprasangka baik, tanpa mengkerdilkan kebesaran perusahaan Anda. Ingat, apa pun budaya kerja perusahaan Anda, tetaplah bekerja dengan sepenuh hati untuk berkontribusi secara total.
Etis atau tidak etisnya sebuah rekrutmen sangat tergantung kepada profesionalisme dan kebutuhan manajemen. Mungkin saja pihak manajemen merasa keunggulan yang dimiliki alumnus universitas tertentu itu sesuai dengan kebutuhan mereka. Jadi, semuanya akan menjadi etis-etis saja bila rekrutmen itu dilakukan melalui prinsip-prinsip good corporate governance.
Budaya nepotisme pastinya tidak sesuai dengan nilai-nilai dari good corporate governance.
Jika sebuah perusahaan dijalankan secara profesional berdasarkan nilai-nilai good governance, maka perusahaan akan terjaga dari berbagai praktik manajemen yang spekulatif, korup, kolusif dan nepotis.
Ingat! Perusahaan yang kuat hanya dihasilkan dengan cara menegakkan sistem, prosedur, peraturan, dan kebijakan dengan penuh tanggung jawab; mengembangkan nilai-nilai kebaikan yang adil dan jujur; menciptakan transparansi di setiap keputusan strategis; memanfaatkan kekuatan sumber daya secara efektif, produktif, kreatif dan efisien; dan menciptakan pelayanan perusahaan yang berorientasi untuk memuaskan stakeholder. Sekian dulu ya, Dandi Wayudi. Have a nice day!

Manager HRD Adalah Sebuah Jabatan Yang Membutuhkan ‘SURVIVAL SKILLS’.

“Permainan Kehidupan Adalah Permainan Bumerang. Cepat Atau Lambat, Pikiran, Tindakan, Dan Kata-Kata Kita Akan Kembali Kepada Kita, Dengan Sangat Akurat.” – Florence Shinn

Dear Bapak Djajendra,

Ini adalah tahun pertama saya sebagai Manager HRD di sebuah perusahaan di Jakarta. Persiapan-persiapan seperti apa saja yang harus saya lakukan agar pekerjaan saya disukai oleh bos dan anak buah? Mohon pencerahannya, terima kasih. Dewi, Jakarta.

Dear Dewi,

Djajendra Menjawab!

Manager HRD adalah sebuah jabatan yang membutuhkan ‘Survival Skills’, yaitu Anda harus terampil untuk mengamankan diri Anda dari kepentingan bos dan juga terampil mengamankan diri Anda dari kepentingan para karyawan. Ingat! Selalu akan ada dua kepentingan ini yang saling berseberangan dengan persepsi masing-masing. Oleh karena itu, Anda sebagai Manager HRD harus bersikap bijaksana dan profesional. Kalau Anda gagal menjadi pribadi yang cerdik dan bijak Anda akan terpaksa harus memilih membantu siapa. Jika Anda memilih membantu kepentingan bos, Anda akan dimusuhi oleh karyawan, atau sebaliknya jika Anda memilih membantu kepentingan para karyawan, Anda bisa di phk oleh bos. Jadi, pintar-pintarlah menjalankan peran dan fungsi kerja Anda sebagai Manager HRD Perusahaan. Bukan menjadi Manager HRD si bos atau si karyawan, tapi Anda bekerja untuk kepentingan kesuksesan seluruh kekuatan sumber daya manusia perusahaan tanpa terkecuali.

Berikut tips buat Anda!

1.Pastikan Anda Bekerja Dengan Kekuatan Kecerdasan Emosional Dan Kecerdasan Intelektual Anda.

2.Pastikan Dalam Situasi Apa Pun Diri Anda Selalu Terkendali Bersama Sikap Baik.

3.Sosialisasikan Semua Tata Tertib, Aturan, SOP Perusahaan Kepada Setiap Karyawan Dan Pimpinan.

4.Jangan Pernah Membicarakan Kejelekan Siapa Pun Di Kantor.

5.Jangan Hanya Memperhatikan Kepentingan Karier Diri Sendiri Dan Mengabaikan Urusan Karier Karyawan.

6.Jangan Membuat Keputusan Yang Tidak Konsisten Dan Berubah-Ubah.

7.Pastikan Job Diskripsi Dari Setiap Pimpinan Dan Karyawan Di Buat Dengan Jelas Dan Terukur Antara Tugas, Tanggung Jawab, Dan Kewajiban.

8.Pastikan Setiap Karyawan Mengetahui Dengan Jelas Tentang Sasaran Kerja Yang Harus Mereka Capai Setiap Hari.

9.Pastikan Semua Karyawan Dan Pimpinan Dari Berbagai Unit Kerja Selalu Bekerja Sama Untuk Tujuan Perusahaan.

10.Pastikan Perusahaan Menyiapkan Dukungan, Pelatihan, Coaching, Dan Pengembangan Untuk Membantu Para Karyawan Dan Pimpinan Mencapai Target Yang Diinginkan Perusahaan.

Sekian dan Terima Kasih

Saat Perusahaan Tidak Menepati Janjinya Kepada Karyawan

“Jangan Biarkan Masa Depan Anda Diperangkap Oleh Janji-Janji Manis, Tapi Mulailah Pendakian Menuju Sukses Tertinggi Dengan Kekuatan, Keberanian, Keyakinan, Dan Kemampuan Diri Anda Sendiri.” – Djajendra

Pertanyaan ?

Saya telah mengabdi kepada perusahaan lebih dari lima belas tahun. Selama ini saya disiapkan untuk menjadi pimpinan, tapi kenyataannya perusahaan merekrut orang baru untuk mengisi posisi yang pernah dijanjikan kepada saya. Jelas saya sangat kecewa, pengabdian saya selama ini menjadi sia-sia. Apakah etis kalau saya mencari pekerjaan baru? Mohon sarannya pak djajendra. Terima kasih. Amirudin.

Djajendra Menjawab!

Ketika Anda merasa bahwa Anda telah mempersiapkan diri Anda secara sempurna untuk menerima jabatan yang dijanjikan perusahaan kepada Anda. Dan, pada akhirnya perusahaan ingkar janji terhadap Anda, sangat wajar bila Anda merasa kecewa. Pengabdian Anda kepada perusahaan merupakan bentuk loyalitas yang pantas untuk dibanggakan. Anda harus yakin, percaya diri, dan memiliki keberanian untuk menentukan pilihan karier Anda ke depan. Jangan biarkan perjalanan karier kerja Anda diperangkap oleh janji-janji manis dari pihak manapun. Jika Anda yakin telah bekerja secara profesional dan melakukan hal-hal terbaik buat perusahaan Anda, tidak ada namanya Anda kalah atau pun gagal bersama perusahaan Anda saat ini. Anda sebenarnya telah melakukan kewajiban Anda secara maksimal, hanya saja faktor keberuntungan belum berpihak kepada Anda. Saya sangat yakin bahwa pengabdian Anda kepada perusahaan Anda selama ini tidak pernah menjadi sia-sia. Anda telah melakukan sebuah upaya keras untuk meraih jabatan yang lebih tinggi di perusahaan Anda, dan tidak selalu sebuah upaya keras itu akan menghasilkan apa yang kita inginkan. Sangatlah etis kalau Anda mau mencari pekerjaan baru untuk memenuhi harapan hidup Anda. Jadi, jangan takut untuk melakukan tindakan besar buat masa depan Anda yang lebih cemerlang. Sekian dan terima kasih.

Tidak Ada Batas Toleransi Untuk Karyawan Yang Sering Bolos Kerja

“Disiplin Adalah Jalan Menuju Prestasi. Pribadi Yang Suka Bolos Adalah Pribadi Yang Menutup Kesempatan Dirinya Untuk Meraih Sukses. Pribadi Yang Rajin, Tekun, Ulet, Dalam Perilaku Disiplin Yang Tinggi Adalah Pribadi Pejuang Yang Mengoptimalkan Potensi Diri Untuk Sukses.” – Djajendra

Pertanyaan?

Bagaimana caranya kita memperbaiki perilaku tidak disiplin dari karyawan yang sering bolos kerja dengan berbagai alasan? Seberapa besar toleransi yang boleh kita berikan? Terima kasih pak untuk jawabannya. Taufik.

Djajendra menjawab!

Perilaku tidak disiplin dari karyawan biasanya disebabkan oleh kondisi internal perusahaan yang tidak tegas dalam menegakkan peraturan kerja. Oleh karena itu, pimpinan perusahaan harus berwibawa untuk menegakkan disiplin kerja terhadap setiap orang di kantor tanpa pilih kasih. Lakukan internalisasi budaya mutu kerja yang berdisiplin tinggi terhadap setiap orang di kantor. Lakukan sosialisasi terhadap setiap kebijakan, peraturan, dan etika kerja kepada setiap orang di kantor.
Sikap sering bolos kerja dengan berbagai alasan yang tidak jelas, tidaklah boleh diberikan toleransi apa pun. Perusahaan harus bersikap tegas dan bertindak sesuai aturan dan perjanjian kerja yang ada.
Terapkan sistem imbalan yang menarik kepada karyawan yang rajin, tekun, berdisiplin, berkinerja, dan berprestasi tinggi. Dan, terapkan hukuman tegas kepada karyawan yang sering bolos dan yang berkerja dengan kualitas dibawah standar. Perhatikan juga beban kerja karyawan, kompensasi, karir, pengembangan, dan penempatan karyawan yang sesuai dengan bakat dan potensi si karyawan. Sekian dan terima kasih.

Bagaimana Mengatakan “Tidak” Kepada Si Bos?

“Setiap Bentuk Perintah Dari Bos, Seberapapun Tidak Etisnya Perintah Itu, Umumnya Akan Dipatuhi Oleh Anak Buahnya. Sebab, Bos Memiliki Kekuasaan Untuk Menentukan Perjalanan Karier Para Anak Buah.” – Djajendra

Pertanyaan?

Seringkali bos memberikan tugas tambahan diluar kemampuan kita. Sangat sulit untuk menolaknya dengan alasan dia adalah bos dan belum lagi sedikit omelan yang mungkin dilayangkan jika kita menolaknya. Bagaimana untuk kita bisa mengatakan “tidak” kepada si bos? Cosmopolitan

Djajendra Menjawab!

Perlu dipahami bahwa di dalam sebuah organisasi harus ada yang namanya etika kerja. Etika kerja ini mengatur tentang perilaku kerja yang baik, di sini ada nilai-nilai moral dan nilai-nilai kepantasan. Jika si bos melanggar etika kerja yang ada di kantor, maka sewajarnya bagian yang mengawasi perilaku kerja mengingatkan kepada si bos tentang dampak negatif buat kemajuan organisasi akibat dilalaikannya etika kerja tersebut. Jadi, untuk Anda yang menjadi korban kesewenang-wenangan si bos, maka segeralah berlindung dibawah payung proteksi etika kerja. Dan katakan ”TIDAK” kepada si bos.
Bila di organisasi Anda belum dibuatkan panduan etika kerja, artinya organisasi Anda belum menjalankan prinsip-prinsip good corporate governance yang baik, yang berarti belum menjadi organisasi yang profesional.

Untuk seminar/training hubungi www.ninecorporatetrainer.com