Sikap Menghadapi Pegawai Yang Lebih Tua

1. Bagaimana sikap yang harus dilakukan atasan pada pegawai yang lebih tua, jelaskan?– Herman.

Djajendra Menjawab

Setiap perusahaan biasanya memiliki code of conduct atau kode etik yang diantaranya mengatur cara memelihara lingkungan kerja yang bebas dari diskriminasi, pelecehan, perbuatan asusila, ancaman, tekanan, dan kekerasan. Artinya, sikap atasan tidak boleh bertentangan dengan kode etik perusahaan, dan atasan harus membangun sikap profesional untuk  memaksimalkan hubungan pribadi dengan setiap pegawai tanpa melihat usia. Jadi, seharusnya tidak boleh ada sikap yang berbeda dari atasan terhadap pegawai yang lebih tua.

2. Apakah atasan perlu membeda-bedakan perlakuan pada pegawai yang lebih tua dan lebih muda, jelaskan?– Herman.

Djajendra Menjawab

Atasan tidak perlu membeda-bedakan perlakuan pada pegawai hanya oleh alasan usia. Banyak pegawai dari sisi usia sudah tua, tapi dari sisi intelektual dan emosional masih sangat labil. Dan banyak juga pegawai dari sisi usia masih muda, tapi dari sisi intelektual dan emosional sudah sangat stabil dan dewasa. Dari pengalaman saya bekerja di berbagai perusahaan, saya menyerap bahwa para atasan hanya akan menghormati atau memberikan perhatian lebih kepada pegawai yang cerdas secara intelektual dan emosional, berintegritas, setia, rajin, pekerja keras, beretika, sopan, dan berdedikasi kepada pekerjaan, atasan, dan perusahaan. Jadi, tidak pernah saya melihat di tempat kerja ada atasan bersikap berbeda hanya oleh alasan usia.

3. Yang dikatakan ‘tua’ itu apakah hanya terkait dengan umur pegawai, jelaskan?– Herman.

Djajendra Menjawab

Yang dikatakan ‘tua’ biasanya pasti berhubungan dengan umur pegawai, sedangkan pegawai dengan kecerdasan intelektual dan emosional biasanya akan dikatakan dewasa atau matang secara kepribadian.

4. Apakah benar, atasan yang lebih muda cenderung lebih segan terhadap bawahan yang lebih tua, jelaskan?– Herman.

Djajendra Menjawab

Sebuah tempat kerja pasti akan dikelola dengan aturan, kebijakan, etika, moralitas, dan komunikasi yang saling bersinergi.  Artinya, setiap orang harus bekerja dengan saling menghormati dan saling mengontrol diri untuk tidak menyakitkan siapa pun. Perasaan  segan  seharusnya tidak boleh merusak profesionalisme dan etika bisnis di tempat kerja. Dari pengalaman saya bekerja dan memberi konsultasi kepada perusahaan – perusahaan, saya jarang sekali menemukan kasus di mana atasan yang lebih muda menjadi lebih segan terhadap pegawai yang lebih tua. Setahu saya, lingkungan tempat kerja akan lebih memberikan perhatian kepada pegawai – pegawai yang berkontribusi secara maksimal buat perusahaan, serta yang memiliki sikap, perilaku, emosional, dan kepintaraan yang sesuai dengan kebutuhan perusahaan.  Jadi, tidak pernah umur atau pun usia menjadikan seorang pegawai mendapatkan perlakuan yang berbeda.

Untuk konsultasi kirim E-mail: konsultasi@djajendra-motivator.com

Advertisements

KARYAWAN TIDAK LOYAL DAN TIDAK DISIPLIN

“Bila Karyawan Anda Tidak Disiplin, Disiplinkan Mereka. Bila Karyawan Anda Tidak Loyal, Loyalkan Mereka.” – Djajendra

Pertanyaan

Selamat sore dan salam kenal kepada Bpk. Djajendra, sebelumnnya sy ingin mengenalkan nama saya MA, jabatan manager disesuatu bengkel CBU (kendaraan Built-Up) di jakarta utara, sy sdh bekerja dibengkel baru 6 bulan tapi selama sy memimpin di bengkel banyak kesulitan dan rintangan untuk mengatur mekanik dan  divisi service karena sdh terbiasa di ajarkan tdk displin waktu dan tidak loyal kepada perusahaan yg dia bekerja sebelum saya yg memimpin, contoh waktu bel berbunyi waktunya pulang langsung beres2 dan langsung pergi gitu aja, sampai saya bingung dan terheran-heran kalau masalah uang insentif paling cepat ditanyakan, saya jadinya malas untuk brifing(meiting) bersama karyawan krn dari karyawannya tidak ada kemauan untuk meiting. saya benar dengar dari ngomongan karyawan yg lain katanya buat apa meiting tidak ada gunanya,sampai saya marah mendengarnya. Bpk Djajendra yang saya hormati, saya mohon saran dan petunjuknya.terima kasih

 

Djajendra Menjawab

Selamat malam Bpk MA, terima kasih untuk kepercayaannya bertanya kepada saya. Persoalan Pak MA terletak pada aspek komunikasi, koordinasi, kerja sama, etika, dan tanggung jawab. Persoalan ini telah sampai pada tahap konflik. Oleh karena itu, Pak MA harus melatih perasaan dan pikiran positif agar mampu melihat sisi positif dari setiap orang dengan bijaksana.

Saya percaya Pak MA pasti bisa mengatasi semua persoalan yang dihadapi saat ini. Untuk itu, pastikan Pak MA mampu berjiwa besar dan siap membuka hati untuk merangkul semua orang agar bisa meraih tujuan bersama di bengkel yang Bpk pimpin. Jangan pernah memusuhi orang-orang yang tidak disiplin dan tidak loyal, tapi perlihatkan sikap kepemimpinan yang tegas dan melayani bawahan sambil menegakkan disiplin, etika, aturan dan tanggung jawab.

Untuk tahap awal, cairkan suasana dengan cara mengajak semua karyawan Pak MA outing ke luar kota, buat outbound yang bisa mendekatkan semua orang dalam satu semangat kebersamaan. Pastikan perasaan dan pikiran Pak MA menyayangi semua bawahan, tidak boleh ada perasaan benci atau pun dendam.  Setelah itu, mulailah hari-hari baru di bengkel yang bapak pimpin dengan budaya kerja yang patuh pada disiplin, aturan, etika, dan kepemimpinan yang ada. Bila setelah semua kebaikan dari bapak MA tidak mendapatkan respons positif dari karyawan – karyawan tersebut, maka pak MA harus melakukan reformasi secara bertahap dengan cara merekrut orang baru dan mempersiapkannya untuk menjawab semua ketidakdisiplinan dan ketidakloyalan karyawan lama.

Sekian dan terima kasih.

Salam,

Djajendra

Memahami Kebutuhan Karyawan Untuk Sukses

“Karyawan Anda Adalah Aset Yang Akan Menciptakan Kesuksesan Tanpa Batas Buat Perusahaan Anda.” – Djajendra

Pertanyaan?

Salam sukses  Pak Djajendra.
Mohon tips, hal apa saja yang dibutuhan karyawan agar karyawan dapat meraih kesuksesan di tempat kerja?
Terimakasih atas perhatiannya. Rike, Karawang.

Djajendra Menjawab!

Pertanyaan Rike sungguh luar biasa. Keinginan untuk memahami kebutuhan karyawan agar karyawan bisa meraih kesuksesan adalah sebuah niat yang sangat mulia.

Berikut tips untuk  kebutuhan kesuksesan karyawan Anda.

1. Berikan Job Desk Dan SOP Yang Jelas. Beritahu karyawan Anda apa peran mereka, apa yang Anda ingin mereka capai, dan apa aturannya untuk menuju ke sana.

2. Terbuka, Profesional, Jujur, Adil, Beretika. Ciptakan lingkungan tempat kerja yang membuat karyawan mempercayai perusahaan, pimpinan, dan manajemen dengan sepenuh hati. Di saat karyawan mempercayai perusahaan sepenuh hati, maka karyawan akan bekerja dengan sebaik mungkin untuk meraih prestasi terbaik.

3. Ciptakan Sistem, Prosedur, Kebijakan, Dan Aturan. Karyawan membutuhkan cara mengerjakan pekerjaannya dengan berkualitas. Untuk itu, perusahaan harus membangun tata cara kerja yang efektif  buat memudahkan semua pekerjaan karyawan.

4. Berikan Tanggung Jawab. Di saat karyawan diberikan tanggung jawab untuk menghasilkan prestasi, karyawan akan merasa dipercaya dan dihargai perusahaan. Hal ini akan membuat karyawan merasa menjadi orang penting yang harus berjuang total untuk hasil kerja terbaik.
5. Berikan Pujian. Setiap orang ingin diakui atas prestasi dan kinerja mereka. Oleh karena itu, siapkan tata cara dalam bentuk budaya perusahaan untuk memberikan penghargaan kepada yang berhasil. Jangan lupa untuk memberikan pencerahan dan motivasi buat mereka yang belum berhasil.

Sekian dan terima kasih.

Untuk seminar/training hubungi www.djajendra-motivator.com

Corporate Culture Yang Andal

“ Tanpa Corporate Culture Perusahaan Akan Berada Dalam Ketidakpastian; Tanpa Sistem Perusahaan Akan Berada Dalam Kekacauan; Tanpa Aturan, Prosedur, Dan Kebijakan Perusahaan Akan Kehilangan Reputasi.” – Djajendra

Pertanyaan?

Dear Pak Djajendra,

Apa yang harus dilakukan ketika pemilik perusahaan tidak begitu peduli pada corporate culture dan system? Saat kami para professional mengajukan untuk membangun system dan corporate culture yang kuat. Dia hanya peduli pada bisnis, dan berkata “Sorry, Business Is Business…. Business Is Not Corporate Culture!” Thanks, Anita – Semarang

Djajendra Menjawab!

Dear Anita,

Saya sangat setuju bahwa business is business, but a good business depends on a good corporate culture or a good organizational culture.

Peran dan fungsi corporate culture adalah untuk menyatukan setiap orang di dalam perusahaan kepada satu visi yang jelas. Sebab, setiap pribadi pada umumnya memiliki home culture masing-masing. Dan, di dalam perusahaan bila home culture masing-masing ini dibiarkan tumbuh dan berkembang, maka yang akan terjadi adalah konflik dan perbedaan persepsi secara terus-menerus. Jelas, hal ini akan menguras energi perusahaan dan menghambat perusahaan untuk tumbuh menjadi besar. Oleh karena itu, perusahaan wajib membangun corporate culture yang sesuai dengan misi dan visi perusahaan, agar perusahaan mampu beroperasional secara pasti dan konsisten untuk masa depan yang lebih cerah. Sekian dulu, ya, Anita. Have a great day!

Untuk seminar/training hubungi www.djajendra-motivator.com

Lean Six Sigma Meningkatkan Kinerja Dan Keuntungan?

”Temukan Apa Yang Orang Inginkan Dan Bangunlah Itu Bagi Mereka.” – Walt Disney

Pertanyaan?

Dear Pak Djajendra,

Saya mau nanya, apakah perusahaan yang di jalankan dengan model bisnis Lean Six Sigma bisa meningkatkan kinerja dan keuntungan? Mohon pencerahannya, terima kasih. Judika, Jakarta.

Djajendra menjawab!

Dear Judika,

Sesungguhnya konsep Lean Six Sigma hanya berbeda tipis dengan konsep Total Quality Management. Di mana, konsep Lean Six Sigma ini digunakan sebagai alat untuk meningkatkan kualitas perusahaan di semua aspek.

Jadi, saat Anda mengimplementasikan konsep Lean Six Sigma di perusahaan Anda, Anda harus fokus untuk memenuhi semua kebutuhan internal perusahaan dalam memberikan pelayanan terbaik kepada stakeholder. Di sini, Anda harus memiliki komitmen untuk mendengarkan dan memenuhi semua harapan dan kebutuhan dari karyawan, pelanggan, pemilik saham, dan kebutuhan bisnis itu sendiri.

Memang telah banyak kisah sukses yang diceritakan oleh perusahaan-perusahaan multinasional besar dengan konsep Lean Six Sigma. Persoalannya, saat-saat krisis seperti sekarang ini, tidak semua perusahaan multinasional itu mampu menghasilkan kinerja dan keuntungan. Mungkin dalam kondisi dan situasi ekonomi yang sehat, konsep Lean Six Sigma mampu menjadi sistem yang memberikan kinerja dan keuntungan buat perusahaan.

Saya percaya, Lean Six Sigma merupakan sebuah konsep atau pun sistem manajemen yang sangat baik. Persoalannya, kinerja dan keuntungan perusahaan tidak hanya ditentukan oleh kehebatan sebuah model bisnis, konsep bisnis, atau pun oleh sebuah sistem manajemen yang hebat. Kinerja dan keuntungan perusahaan sangat dipengaruhi oleh berbagai situasi dan kondisi bisnis, ekonomi, dan pasar. Sekian dulu ya, Judika, have a great day!

Untuk seminar/training hubungi www.djajendra-motivator.com

Budaya Kerja Nepotisme

Pertanyaan?

Yth Bapak Djajendra,

Bagaimana cara kita menghadapi budaya kerja di perusahaan yang mengagung-agungkan kehebatan sesama alumnus? Apakah etis bila manajemen mengutamakan merekrut karyawan baru dari universitas tertentu dengan fanatisme tinggi? Bagaimana hal ini hubungannya dengan good governance? Terima kasih. Dandi Wayudi, Jakarta.

Djajendra Menjawab!

Dear Dandi Wayudi,

Manajemen yang berkualitas tidak akan merekrut atau pun mempromosikan karyawan atas dasar nepotisme. Manajemen yang kuat pasti bekerja sepenuhnya dengan menggunakan sistem yang konsisten dengan prinsip-prinsip good corporate governance. Manajemen yang profesional pasti mengutamakan kompetensi, kualitas, karakter, dan potensi seseorang untuk dijadikan sebagai sumber daya perusahaan yang kuat dan solid. Dan tidak mungkin mengkerdilkan dirinya dengan hanya mempercayai sesama kelompok atau alumnus.

Ketika Anda menghadapi budaya kerja yang mengagung-agungkan kehebatan sesama alumnus, maka Anda harus bersikap lebih professional dalam semua aspek pekerjaan Anda. Lalu, tetap berpikir positif dan berprasangka baik, tanpa mengkerdilkan kebesaran perusahaan Anda. Apa pun budaya kerja perusahaan Anda, tetaplah bekerja dengan sepenuh hati untuk berkontribusi secara total.

Etis atau tidak etisnya sebuah rekrutmen sangat tergantung kepada profesionalisme dan kebutuhan manajemen. Mungkin saja pihak manajemen merasa keunggulan yang dimiliki alumnus universitas tertentu itu sesuai dengan kebutuhan mereka. Jadi, semuanya akan menjadi etis bila rekrutmen itu dilakukan melalui prinsip-prinsip good corporate governance. Budaya nepotisme pastinya tidak sesuai dengan nilai-nilai dari good corporate governance. Jika sebuah perusahaan dijalankan secara profesional berdasarkan nilai-nilai good governance, maka perusahaan akan terjaga dari berbagai praktik manajemen yang tidak sehat. Perusahaan yang kuat hanya dihasilkan dengan cara menegakkan sistem, prosedur, peraturan, etika, dan kebijakan dengan penuh tanggung jawab;  mengembangkan nilai-nilai kebaikan yang adil dan jujur; menciptakan transparansi di setiap keputusan strategis; memanfaatkan kekuatan sumber daya secara efektif, produktif, kreatif dan efisien; dan menciptakan pelayanan perusahaan yang berorientasi untuk memuaskan stakeholder. Sekian dulu ya, Dandi Wayudi. Have a nice day!

Untuk seminar/training hubungi www.djajendra-motivator.com

Menanamkan Etos Kerja Kepada Karyawan

”Etos Kerja Itu Bukan Sekedar Sebuah Budaya Kerja, Tapi Merupakan Pekerjaan Mental Untuk Menjadi Lebih Berkinerja.” – Djajendra

Pertanyaan?

Yth Bpk Djajendra,

Kami adalah perusahaan jasa boga (UKM), sekarang ini manajemen perusahaan kami kelola sendiri dengan di bantu sekitar 60 karyawan, dan 40% dari karyawan masih punya hubungan keluarga. Yang ingin kami tanyakan, bagaimana cara menanamkan etos kerja yang berkinerja tinggi kepada karyawan? Terima kasih. D Kesuma – Solo

Djajendra Menjawab!

Yth D Kesuma – Solo,

Etos kerja berkinerja tinggi artinya karyawan memiliki kompetensi dan komitmen untuk bekerja total dengan cara merencanakan, mengorganisir, memecahkan masalah, dan berkomunikasi kepada manajemen secara profesional. Selanjutnya untuk membangun etos kerja yang berkinerja tinggi. Pertama, perusahaan harus dikelola dengan visi, misi, dan nilai yang jelas; dengan dukungan SOP yang sederhana dan tepat sasaran. Kedua, mind set karyawan harus di isi etika dan motivasi untuk meningkatkan semangat kerja dengan tujuan meningkatkan kepuasan pelanggan. Ketiga, walaupun 40% dari karyawan masih memiliki hubungan keluarga, tetapi manajemen perusahaan harus di jalankan dengan panduan etika bisnis, code of conduct, prinsip good corporate governance yang profesional dan dinamis. Keempat, pastikan manajemen mengutamakan kompetensi dan komitmen dari karyawan untuk bekerja dengan kinerja tinggi.

Usaha jasa boga membutuhkan kreatifitas dan pelayanan berkualitas tinggi. Untuk itu, pastikan Anda mampu mentransformasikan nilai-nilai pelayanan berlandaskan sikap baik dan niat baik. Termasuk, maksimalkan semua upaya untuk membangun kesadaran karyawan, agar karyawan mampu menciptakan sebuah etos kerja yang bervisi untuk mendapatkan dan mempertahankan loyalitas pelanggan. Sebab, kinerja tinggi hanya akan dihasilkan saat perusahaan memiliki banyak pelanggan dengan keuntungan maksimal. Sekian dulu,ya, D Kesuma. Have a great day!

Untuk seminar/training hubungi www.djajendra-motivator.com