Perasaan Dan Pikiran Senasib Mampu Membangun Relasi Dengan Orang Lain

“Saat Dua Hati Yang Terluka Bertemu Dan Kedua Hati Itu Merasa Senasib Dalam Hidupnya, Dan Jika Kedua Hati Itu Berpikir Positif Untuk Saling Melengkapi Dan Saling Peduli Untuk Menghilangkan Luka-Luka Mereka. Lalu Berjuang Untuk Bangkit Bersama Emosional Positif Mereka Masing-Masing, Maka Kedua Hati Itu Akan Menjadi Sahabat Sejati Di Sepanjang Hidup Mereka.” – Djajendra

Wenli Bertanya?

Dear Bapa Djajendra, ada yang mau saya tanyakan pada Bapa Djajendra, ketika kita ingin membangun relasi dengan orang lain kita harus membangun emosi yang menyenangkan dengan orang tersebut. Tetapi, suatu relasi dapat juga di bangun dengan emosi yang tidak menyenangkan. Contoh: ada 2 orang yang secara kebetulan bertemu di tempat pemakaman.
Si Ani bertanya pada si Tina: “mengapa kamu bersedih?”.
Tina: ” Aku baru di tinggal pergi oleh ayahku karena kecelakaan lalu lintas. Lalu Tina balik bertanya: “Kalau kamu mengapa bersedih?’
Ani: “Aku juga baru di tinggal oleh kakak ku karena ia mengidap kanker ganas.” Dan dari pertemuan itulah mereka menjadi sahabat baik karena merasakan hal yang sama, yaitu di tinggal oleh orang yang sangat mereka sayangi. Dari sini dapat kita lihat bahwa suatu relasi dapat juga di bangun dengan emosi yang tidak menyenangkan. Selain itu marah, apakah orang tua tidak boleh marah ketika anaknya pulang terlalu larut malam.
Marah juga termasuk emosi yang tidak Menyenangkan. Bagaimana menurut pendapat Bapa Djajendra mengenai masalah ini? Terima kasih atas perhatian Bapa Djajendra. From Wenli

Djajendra Menjawab!

Dear Wenli,

Dalam kisah Ani dan Tina, mereka mengalami sebuah peristiwa kehilangan orang yang mereka cintai, dan emosi kehilangan mereka itu bisa menyatukan hubungan mereka untuk menjadi sahabat baik. Hal ini bisa terjadi karena perasaan dan pikiran senasib, dan mereka berdua mencoba saling melengkapi untuk menghilangkan luka-luka emosional yang mereka alami, serta mencoba bersatu untuk memperbaiki emosi tidak menyenangkan tersebut menjadi emosi baik. Kalau kita melihat sepintas terlihat bahwa seolah-olah emosi yang tidak menyenangkan itulah yang telah menyatukan Ani dan Tina, padahal sebenarnya perasaan dan pikiran senasib itulah yang menyatukan hubungan Ani dan Tina. Perasaan dan pikiran senasib adalah emosi positif, sebab ada kesadaran untuk saling membantu, saling melengkapi, dan saling peduli.
Apakah orang tua tidak boleh marah ketika anaknya pulang terlalu larut malam? Betul, marah itu emosi negatif dan tidak baik untuk siapa pun, sebab marah hanya akan menciptakan kebencian. Parsoalannya saat anak pulang larut malam tanpa kepentingan untuk hal-hal baik, maka sikap melindungi, cinta dan kasih sayang orang tua berbicara melalui kata-kata tegas yang melarang anaknya untuk pulang larut malam. Jadi, di sini si orang tua tidak marah karena benci, tapi menasehati anaknya dengan kata-kata tegas dan keras, agar anaknya bisa menyadari bahwa perilaku pulang larut malam itu tidak baik untuk dirinya. Jadi, dalam hubungan si orang tua dan anak itu hanyalah sebuah kepedulian dan cinta, yang terpaksa diungkapkan dalam wujud kata-kata tegas dan keras, agar si anak tahu bahwa perilakunya itu tidak baik. Sekian dulu, ya, Wenli. Have a great day.